jump to navigation

ilmu, zuhud dan ma’rifat Desember 16, 2006

Posted by liends in ulama.
trackback

Ilmu itu melahirkan kekhawatiran (rasa takut kepada Allah) , sementara sikap zuhud melahirkan ketentraman dan ma’rifat itu melahirkan kepasrahan. Yang terbaik di antara umat ini adalah yang tidak disibukkan oleh akhirat mereka sehingga lupa dunia , dan tidak di sibukkan oleh dunia sehingga lupa akhirat.

[Al-harist Al-Muhasibi]

Komentar»

1. winoto - Januari 3, 2008

wah kurang baik kalo bisa kdua – duanya seimbang dan smua harus d kembalikan pada allah.

2. adam - Maret 28, 2008

Hidup itu harus ihklas dan harus bisa seimbang betul apa yang di katakan winoto…….

3. wongjowo - Juni 6, 2008

ya.. saya setuju terhadap kang mas winoto. yang saya lihat dari kehidupan ini pun berkaitan dengan hukum keseimbangan.. beberapa hal atau mungkin semua hal yang terjadi sehari-hari pun berdasarkan prinsip keseimbangan misalnya ada sebab ada akibat, ada siang ada malam, bulan-matahari, makan secara seimbang bukan teratur,tidur juga harus seimbang bukan pula harus teratur. Satu hal saja terjadi secara tidak seimbang maka bencanalah atau penderitaanlah hasilnya…. Itu hanya pendapat saya saja..hehe,,mohon petunjuknya dari para sesepuh…

4. gunawan wibisono - Oktober 28, 2008

awalnya dari jasad
menuju ke muhammad
dari muhammad kembali kepada ahmad
ahmad kembali menjadi ahad
ahad adalah puncak untuk menuju ad
dzat kembali menjadi dzatullah
sir kembali menjadi sirullah
nur kembali menjadi nurullah
itulah inalilahi sejati

5. murdani - November 28, 2008

menurut pengetahuan kami, terkait dengan kata “zuhud” tersebut, mengartikan bahwa sikap kesederhanaan. Kesederhanaan ini ada dengan konsep pemahaman akan adanya sikap tidak berlebih-lebihan. Jadi zuhud menafikan pada berlebih-lebihan. Sifat Zuhud ini memiliki potensi yang ada pada diri manusia. Orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT, pasti memiliki sifat zuhud. Orang-orang yang memiliki ilmu Pengetahuan yang tinggi, apakah itu bergelar S1, S2, S3, dan seterusnya ataupun non gelar, yang dalam kehidupan sehari-hari selalu ramah, saling menolong, bersikap terpuji, merendah diri, pasti memiliki zuhud pula.
Ilmu memang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia, tanpa ilmu maka prinsip, pijakan, standar dalam mengarungi hidup ini akan suram, tak bergairah. Namun yang perlu untuk dipahami adalah ilmu apakah yang sangat esensi untuk dimiliki oleh setiap manusia, agar tidak terombang-ambing dalam menghadapi roda kehidupan, ibarat “perahu yang ditengah lautan yang selalu diterpa ombak hingga perahu tersebut terombang-ambing”. Nah..pertanyaannya adalah ilmu apakah yang menjadi standar hidup? jawabananya ilmu agama karena arti dari agama adalah tidak kacau. Agama adalah hal yang sangat fitrah untuk dimiliki oleh setiap manusia, tanpa agama maka hidupnya akan kacau ibarat kayak binatang/hewan,tak memiliki norma/aturan hidup. Diera yang modern saat ini, banyak orang-orang yang memiliki agama tapi tetap kacau juga, kenapa hal itu terjadi? Esensinya adalah karena setiap manusia sebenarnya tak memahami Agamanya sendiri. Misal: salah satunya orang Islam tau kalau shalat itu bagian dari rukun Islam (kalau tidak salah…) tapi tak memahami makna shalat, cermin dari shalat itu dalam kehidupan sehari-hari. Itu adalah fakta yang tak bisa dipungkiri.

6. firman - April 2, 2009

lebih jelas