jump to navigation

10 kualitas pribadi yang disukai Januari 2, 2007

Posted by liends in artikel.
add a comment

1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada,pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bias bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Karena tidak semua orang dikaruniai tempramen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Orang yang “Easy Going” menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.

10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

courtesy : chairul rizky

enjoy small pleasures Januari 2, 2007

Posted by liends in quotes.
add a comment

“Little things seem nothing, but they give peace, like those meadow flowers which individually seem odorless but all together perfume the air.”

do’a seorang prajurit bagi puteranya Januari 2, 2007

Posted by liends in quotes.
1 comment so far

Tuhanku,
bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah.
Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut.
Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan, rendah hati dan jujur dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti, bahwa mengetahui serta mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.

Tuhanku,
janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yang mudah dan lunak.
Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup.
Bimbinglah puteraku supaya dia mampu tegak berdiri di tengah badai serta berwelas asih kepada mereka yang jatuh.
Bentuklah puteraku menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit.
Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Seorang manusia yang mampu meraih hari depan tapi tak melupakan masa lampau.

Dan setelah segala menjadi miliknya semoga puteraku dilengkapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh namun jangan sekali-kali berlebihan.
Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan yang hakiki,
pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya, akan berani berkata:
“hidupku tidaklah sia-sia”.

[Douglas Mac Arthur - ditulis pada masa-masa paling sulit di awal Perang Pasifik]

courtesy alba

everything happens for a reason Januari 2, 2007

Posted by liends in artikel.
1 comment so far

Nothing that God has created exists without a plausible reason. Don’t we get amazed when we look at God’s creations? For instance, why do we hear birds’ singing as soon as the sun rises every morning? Ask a tiny child and even s/he can tell us that the singing of birds is a way with which they say their prayers. Let’s focus our attention on why the universe was created.

Rick Warren in his book The Purpose Driven Life writes: “You are not an accident, even before the universe was created, God had you in the mind, and He planned you for His purpose.” This statement raises issues like why are we here. The reason lies in the fact that God created universe for a particular purpose. We are not here just to eat, drink and sleep; but in fact the goal of our lives is to worship our Creator and to understand His greatness.

Don’t we get pleasantly surprised when our eyes see the green mountains whose peaks touch the clouds, the endless, deep rivers and oceans, the beautiful valleys, and the perfectly planned solar system? All such creations make us realise the greatness of God. Science has advanced tremendously over the years but scholars and scientists are yet to fully grasp the concept of God. Despite the fact that the universe is the creation of God, thoughts like how the whole universe came into being always puzzle many a man.

It’s now time to understand human anatomy and physiology. Have we ever wondered why a newborn usually arrives in the world headfirst? The reason is that the human pelvis is shaped in such a way that it holds the head in place. The whole process of childbirth which causes immense labour pain to mothers has its own significance. As the baby passes from the birth canal, its chest squeezes out the fluid which s/he inhaled inside the uterus in order to prevent breathing complications. Do we know why the newborn cries right after its birth? So that his/her respiratory mechanism can be initiated as soon as possible as s/he is no longer dependent on the mother. This shows that everything happens for a reason.

We as individuals always find ourselves in complex social relationships. Throughout the journey of life we interact with several people. As a result, we often act as colleagues, friends, co-workers or employees. We befriend some people because of the certain characteristics that they embody. On the other hand, we don’t like some people because of the negative traits that we think they have. At times when we do not like certain people because of some of their traits, it also teaches us a lesson that these particular traits present in a person must be avoided in order to maintain a good and healthy relationship. On the other hand, with some people we don’t even hesitate to share many of our great moments. Lines from a poem by Russell Kelfer touches upon this subject in a distinct manner, “You are who your are for reasons. You are a part of an intricate plan.”

Again, all of this is in accordance with God’s plans. When we meet someone who understands our inner selves, it also happens according to God’s wishes. In millions of people, only a few share our love and emotions with us. People have life-long commitments with the ones who they believe can be best soul mates. But then there are people who suffer breakups. Things like these also happen for a reason.

Let’s now concentrate on some of the usual happenings in our everyday lives. Each one of us has certain dreams. And we all passionately wish that our dreams come. Sometimes Lady Luck smiles on us and our prayers are answered, but sometimes our wishes don’t come true. Clever minds find a reason for it. It’s often said, “Whatever happens, happen for good.” Instead showing discourteous attitude towards God, we need to understand that either our wishes weren’t in our favour or God has something better for us. Often we struggle and our prayers don’t get answered. We need to understand that prayers never go unanswered. God does listen to our prayers, but it is in His best judgment when to answer those prayers.

Courtesy: Nousheen Alwani

lesson dari pak muchroni Januari 2, 2007

Posted by liends in artikel.
2 comments

Pak Muchroni.

Usianya 50 tahun. Seorang manager Transmission Support System Planning (yang urusannya nge-plan pembangunan tower BTS, BSC, Nodal, MSC, dll) di Group Head Cellular Planning. Beliau baru sebulanan ini join di Group Head tersebut. Sebelumnya, Beliau dibagian propoerti (yang ngurusin properti perusahaan seperti gedung).

Jumat kemaren, secara ramah, Beliau menghampiri kami (aku dan seorang teman). Hm… Rada lupa bagaimana awal pembicaraannya, trus tau-tau ngalor – ngidul ke perjalanan karier Beliau..

Di resume aja ya…

Intinya, Setamat SMA, Beliau sempat bekerja selama 2 tahun (di perusahaan telekomunikasi juga), trus ambil kuliah. Setelah itu Beliau berpindah-pindah bagian. Dari  ”Kabel Laut’ di Ancol, jadi trainer untuk karawan baru di ‘Pendidikan Dasar / Dikdas’ selama 18 bulan, di bagian propoerti, dan sekarang di TSSP (kayanya ada lagi.. tapi lupa. maaf ya). Subhanallah… 

50 tahun usianya, berarti, bisa jadi Beliau sudah 30 tahun bekerja di dunia telekomunikasi. Apa dan bagaimana dunia telekomunikasi, Beliau paham perkembangannya.

 ’Seru ya di sini. Saya belajar baru dan banyak hal. ‘ (Secara staf nya Pak Muchroni adalah orang-orang yang handal di bidang CME —> Civil, Mechanical, Electrical; dan Pak Muchroni tidak segan untuk belajar dari stafnya.)

‘Saya kelamaan di jalan neyh. he..he.. (maksudnya, Beliau merasa sepertinya waktunya lama untuk mencapai posisi Beliau seperti sekarang.)’

2 kalimat itu yang menginspirasi aku. Menginspirasi untuk rendah hati dan tetap belajar banyak hal. Bahwa ilmu itu tak berbatas. Dan… Aku pribadi selalu mendapati wajah sumringah optimis Beliau saat datang ke kantor. Optimis bahwa pekerjaan baru dan sulit seperti apapun bisa diselesaikan, dengan tekad dan keseriusan, dan seoul, dan komitmen.

Trus, kalimat yang terakhir, menginspirasi bahwa.. kesuksesan itu adalah poses, bukan tujuan. Maka perlu perjalanan panjang, dan keuletan. Dan setelah melalui perjalanan itu,  penghargaan terhadap nilai sebuah kesuksesan akan berimbas pada pribadinya. Pribadi yang tetap tawadhu, dan terusss bergerak tuk menggapai progress yang lebih baik.

Alhamdulillah atas RizkiMu memmpertemukan aku dengan Pak Muchroni Ya Robb. Jadikan pelajaran ini sebagai bekal langkah-langkah kecilku dalam meretas citaku.

by : Dianti