“Jiwa orang yang cinta selalu memperhatikan yang dicintainya dan hatinya terasa hancur karena kecintaannya. Kebanggaan orang yang dimabuk cinta ialah apabila malam hari yang dilaluinya hanya bersama dengan dicintainya tempat ia mengadu dan mencurahkan isi hatinya. Dia berdiri di mihrab mengadukan kesusahannya sedang hatinya penuh gelora cinta kepada-Nya.”

[Yahya bin Mu’adz]