Allah kadang hanya diingat pada saat-saat sempit, sulit, terjepit, dan terlilit, pada saat-saat seperti itulah nama Allah muncul dalam hati kita, kemudian dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan menghiba kita memohon agar Allah subhanahu wata’ala mengabulkan, menyelamatkan, dan membebaskan kita dari segala lilitan tadi. Setelah bebas, di mana Dia, entah, tak muncul lagi dibenak kita nama-Nya. Hanya sebatas inikah kadar keimanan dan keberagamaan kita? Sungguh menyedihkan, tak jauh beda dengan imannya Fir’aun yang mengatakan aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, namun perkataan itu tiada gunanya karena terucap di kala nyawa sudah ditenggorokan, na’udzubillah mindzaalik.