Pernah merasa jadi manusia tak berguna setelah lulus sekolah atau kuliah,
yang tiba-tiba hilang arah dan tujuan hidup, ketika terbentur antara harapan dan kenyataan?

Pernah merasa tak berdaya karena masih jadi ‘pengacara’,
namun udah gak pantes minta sangu sama ortu?

Dan menatap dengan iri halaman FB teman sekelas di SMA,
yang bisa melanjutkan kuliah ke LN atau punya pekerjaan dengan posisi ajeg,
sementara kamu masih di posisi mandeg?

Berpura-pura bahagia saat dibilang jojoba, padahal hati miris
lihat teman-teman se-angkatan udah bawa momongan nan ceriwis?

Pernah merasakan ‘ramai tapi sepi’?
Seperti ketika berkumpul dengan teman-teman segeng, ramai dan ceria berbincang
lalu tiba-tiba kamu seperti ditarik menjauh dan sepi karena merasa tertinggal jauh dari mereka?

Yessss, the feeling of LEFT BEHIND.

Rasanya? Hehehe, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah:
YA, PERNAH !
maka saya ucapkan selamat datang di Fase Krisis Seperempat Baya
atau bahasa kerennya Quarter Life Crisis.

Yap, Anda NORMAL kok, memang ada fase itu di roda kehidupan kita, terutama buat yang baru menapaki usia 20an. Karena usia tersebut memang awal perubahan besar dalam hidup.
Yang awalnya kita sekolah/kuliah, lalu harus masuk ke lingkungan kerja, keluarga baru atau masyarakat. Dengan kata lain, di usia segitu biasanya Anda baru sadar kalau dunia di luar sana tidak seindah sinetron apalagi seganteng pemain drakor *eh.

Walaupun fase itu normal, tapi tentu saja kita harus selamat melewatinya. Karena keputusan apapun yang Anda ambil di usia dan fase ini, pasti punya dampak yang besar untuk masa depan Anda.

Jadi, apa saja nih tips yang bisa kita lakukan saat QLC melanda?

1. Ubah sudut pandang.

Karena QLC adalah normal, maka semua orang pasti pernah mengalaminya. Tapi tentu saja dengan intensitas yang berbeda-beda, tergantung besarnya masalah yang dihadapi dan kemampuan diri untuk mengatasinya. Ada yang bisa tetap tegar, segala resah disimpan sendiri, tapi ada juga yang  termehek-mehek bahkan sampe usia 30an. Nah, dengan memahami hal ini, maka Anda tidak perlu merasa sendirian, coba deh sudut pandangnya diubah sedikit.
Saat kita mupeng melihat teman yang sudah menikah dan punya anak lebih dulu dari kita, bisa jadi di saat yang sama diapun menatap iri ke kita yang masih bisa jalan-jalan ke toko buku tanpa direcokin momongan.
Saat kita iri melihat teman yang karirnya bagus, bisa jadi dia sebenarnya malah berharap berada di posisi kita yang bisa nyaman bekerja tanpa bos yang otoriter .
Saat kita terkagum-kagum dengar kabar teman yang kuliah di LN, mungkin dia sebenarnya ingin menyibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat daripada bersedih hati menunggu jodoh yang belum datang juga.
Kita gak pernah tau kaaan?
Kadang kita merasa jadi orang yang paling merana di seluruh dunia, padahal masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih sulit dari kita.

2. Bersyukur dengan apa yang kita punya.

Dengan memahami point pertama di atas, ternyata ada loh di dalam kehidupan kita yang malah diinginkan oleh orang lain, oleh orang yang kita anggap lebih sukses.
Nah, saatnya untuk lebih bersyukur pada hal-hal yang kita miliki. Ini lebih baik daripada menghabiskan waktu mengasihani diri sendiri. Bukankah dengan mensyukuri nikmat maka ia akan bertambah?
Yuk buat list apa saja yang patut kalian syukuri dalam kehidupan kalian masing-masing. Semakin banyak, semakin baik.

3. Cari teman yang bisa saling menguatkan.

Tidak semua orang bisa menyimpan masalah sendiri kan?
Disini pentingnya mencari teman yang bisa saling menguatkan,
yang bisa tarik kita ke dunia nyata ketika emosi melanda,
yang bisa memberikan solusi positif di saat kita bawa aura negatif,
yang mau mengulurkan tangan untuk bangkit saat kita jatuh terpuruk.
4. Buat keputusan dengan bijak.

Di fase ini, akan muncul sebuah dorongan kuat untuk melakukan perubahan. Semakin lama kita muak dengan kondisi saat ini, biasanya semakin tidak rasional keputusan yang diambil.  Contohnya begini, jangan sampai karena tinggal kita saja yang belum menikah, lalu kita jadi sradak sruduk mencari jodoh. Jangan karena kita merasa stuck di tempat kerja, lalu kita jadi malas-malasan atau malah berhenti mendadak tanpa kabar. Jangan biarkan emosi mempengaruhi keputusanmu, sesulit apapun kondisinya, tetap harus membuat keputusan dengan bijak, agar tidak menyesal dikemudian hari.

5. Nikmati prosesnya.

Ibarat roda, ada saat di bawah ada saat di atas. Begitu juga fase kehidupan ini, yakinlah fase QLC yang Anda hadapi akan segera berlalu. Semua ini pasti ada hikmahnya, tapi kita baru tahu apa hikmahnya itu di akhir, setelah semua terlewati. Dan mengedepankan emosi, tidak akan menyelesaikan masalah.
Jadi kenapa tidak menikmatinya saja?
Anggap saja ini jadi pengalaman untuk diceritakan ke anak cucu kelak, hehehe.

Kalau kata Bon Jovi nih:

“Welcome, you gotta believe
That right here right now, you’re exactly where you’re supposed to be
Welcome, to wherever you are
When you wanna give up, and your hearts about to break
Remember that you’re perfect, God makes no mistakes”

Yakinlah fase QLC ini akan segera berakhir.
Selamat menikmati hidup temans!